Bismillahirrahmanirrahim JIKA PARA IBU MARAH Islam telah memuliakan dan memberikan kedudukan tinggi bagi kaum wanita lebih-lebih bagi seorang ibu. Hal ini memang pantas diterima para ibu mengingat tugas seorang ibu dalam mendidik anak bukanlah pekerjaan yang ringan. Adakalanya ia mendapati anak yang tidak mendengarkan nasehatnya, usil terhadap orang lain, membantah perintahnya, dll. Keadaan ini tidak jarang menjadikan para ibu marah terhadap anaknya dan mengeluarkan kata-kata kotor disertai umpatan. TAHUKAH KALIAN WAHAI PARA IBU.... Wahai para ibu, ketahuilah bahwasanya apa-apa yang keluar dari mulut kita adalah doa bahkan dalam keadaan marah sekalipun. Oleh karenanya berhati-hatilah dalam setiap ucapan. Berusahalah untuk senantiasa berkata yang baik dan indah sehingga ketika marahpun kita tidak akan mengeluarkan kata-kata kotor dan umpatan bagi anak-anak kita. Terdapat sebuah kisah yang dialami oleh Syaikh Abdurrahman As-Sudais, bahwasanya pada suatu hari ketika ibunya marah beliau (sang ibu) berkata :” "اذهب جعلك الله إمام للحرمين” (pergilah! Semoga Allah menjadikanmu imam haramain). Berkat ucapan marah dari ibunya tersebut syaikh As-Sudais benar-benar menjadi imam di masjidil haram. (http://www.ekra2.com/) Inilah secuil contoh kongkrit tentang doa/ucapan ibu yang sangat mustajab sehingga menjadi kenyataan. Dan masih banyak kisah nyata yang lain tentang hal ini. Wahai para ibi, mulai hari ini hentikan ucapan kotor ketika sedang marah karena akan menjadi petaka bagi anak dan keluarga. Wallahu a’lam
JIKA PARA IBU MARAH
Sabtu, 22 Oktober 2011
Diposting oleh
pencinta ilmu
di
07.26
0
komentar
Bagi para ibu untuk buah hati
Kamis, 19 Mei 2011
بسم الله الرحمن الرحيم
Menghafal al-Qur’an Sejak Usia Dini
Pendahuluan
Seorang ibu adalah madrasah yang pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu seorang ibu-mau tidak mau-harus membekali diri dengan kemampuan (ilmu), ketrampilan, kecerdasan dan kesalehan dalam mendidik anak-anaknya. Bahkan seorang ibu haruslah memiliki segudang ide brilliant guna menarik perhatian anaknya untuk belajar. Seorang ibu juga harus memiliki pendangan jauh ke depan tentang anak-anaknya, sebagaimana para ulama –seperti Imam Bukhari, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Syafi’I, dll- yang tumbuh menjadi ilmuwan besar dengan asuhan dan kerja keras ibu mereka.
Anak merupakan nikmat yang besar dari Allah Ta’ala yang harus selalu disyukuri. Adapun salah satu bentuk syukur yang dapat dilakukan adalah dengan membekali mereka dengan pendidikan terbaik yakni pendidikan al-Qur’an dan mengajarkan kepada mereka untuk menghafalnya. Namun tidak sedikit orang tua yang berfikir dan mengeluh bahwa membimbing anak menghafal Al-Qur’an adalah perkara sulit.
Satu hal yang harus ditanamkan dalam benak para orang tua adalah seorang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat anak, insyaAllah –Allah akan memberikan petunjuk dalam mendidiknya. Para orang tua khususnya ibu juga harus memegang kuat salah satu ayat berikut :
ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر (القمر : 17، 22، 32، 40)
Berikut diantara hal-hal yang harus diperhatikan oleh para “smart mom” yang hendak membimbing anaknya dalam menghafal al-Qur’an.
1. Mulailah dari diri sendiri dan jadikan al-Qur’an lebih dicintai dari apapun.
Seorang ibu tentu memiliki pekerjaan rumah yang sangat banyak, namun jika menginginkan anaknya menjadi pengemban al-Qur’an maka biarkan anak melihat dirinya (ibu) sebagai ahlul qur’an. Jangan melontarkan alasan seperti “bagaimana dengan pekerjaanku nanti”, “siapa yang akan merampungkan tugas mencuci, memasak, dll”. Mengkonsentrasikan diri bersama al-Qur’an bukan berarti meninggalkan pekerjaan. Akan tetapi, sisihkan waktu untuk membaca al-Qur’an dalam sehari meski hanya sebentar.
Apabila orang tua terbiasa membaca dan mencintai al-Qur’an maka pada umumnya anak juga akan menjadi demikian.
2. Ikhlaskan niat karena Allah Semata serta bertawakal kepadaNya.
Barangsiapa yang menghafal qur’an dengan ikhlas karena Allah semata niscaya Allah akan menolong dan menerima amalnya.
3. Berikan motivasi kepada anak
Pada dasarnya seorang anak sangat senang terhadap pujian, oleh karena itu berikan pujian pada mereka apabila berhasil menghafal beberapa ayat atau surat al-Qur’an. Pujian merupakan salah satu bentuk motivasi bagi mereka. Selain pujian, sampaikan kepada mereka tentang keutamaan membaca al-Qur’an dan kisah para sahabat serta ulama yang mempunyai perhatian besar terhadap al-Qur’an.
Berikan pula reward berupa hadiah atas keberhasilan mereka. Hal yang perlu diingat bahwa hadiah tidak mesti berupa uang atau barang mewah yang mahal harganya.
Hindari celaan, perkataan kotor dan kasar karena semua itu tidak membawa kebaikan melainkan menjadi penyebab anak putus asa dan berhenti belajar.
4. Ajarkan secara bertahap.
Sebagai orang tua tidak boleh membebani anak dengan berbagai tugas yang melebihi kemampuannya. Ajarkan anak secara beertahap, kontinyu, dan tidak berlebihan.
Mulailah saat ini juga dan jangan beralasan bahwa mereka masih kecil, biarlah ia bermain dan menikmati masa kanak-kanaknya.
5. Sediakan lingkungan yang mendukung.
Demi suksenya hafalan buah hati, persiapkan lingkungan yang baik sebab, lingkungan yang baik termasuk faktor terbesar yang menentukan tingkat kesalehan anak. Sediakan rumah yang tidak ada nyanyian dan sinetron. Doakan anak supaya diberi kemudahan dan pemahaman terhadap Kalam Allah.
METODE PRAKTIS MEMBIMBING ANAK MENGHAFAL AL-QUR’AN
I. Metode Penggunaan Alat Perekam
Beberapa teknik dalam metode ini, yaitu :
a. Bimbingan seorang ayah terhadap anaknya. (teknik menghafal dengan cara ini biasanya tepat untuk anak usia 7-14 tahun atau lebih).
b. Metode bagi anak usia 3 tahun.
II. Metode Penulisan.
III. Metode Papan Tulis Rumah.
IV. Metode Motivasi Dengan Hadiah.
V. Metode Menghafal Baris per Baris.
VI. Metode Video
Contoh Tabel hafalan dan muraj’ah
Nama : ________________________-
Bulan pertama (30 hari)
| No | Hari | Hafalan baru | Muraja’ah | Cat | Tanggal |
| 1 | Jum’at | Halaman pertama surat al-Baqarah | Halaman pertama surat al-Baqarah |
|
|
| 2 | Sabtu | Hal.2 | Hal 2 |
|
|
| 3 | Ahad | Hal.3 | Hal 2,3 |
|
|
| 4 | Senin | Hal.4 | Hal.2,3,4 |
|
|
| 5 | Selasa | Hal.5 | Hal.2,3,4,5 |
|
|
| 6 | Rabu | Hal.6 | Hal.2,3,4,5 |
|
|
| 7 | Kamis | Hal.7 | Hal.3,4,5,6 |
|
|
| 8 | Jumat | Hal.8 | Hal.4,5,6,7 |
|
|
| 9 | Sabtu | Hal.9 | Hal.5,6,7,8 |
|
|
| 10 | Ahad | Hal.10 | Hal.6,7,8,9 |
|
|
| 11 | Senin | Hal.11 | Hal.7,8,9,10 |
|
|
| 12 | Selasa | Muraja’ah hafalan sebelumnya hal.2-11 |
|
|
|
| 13 | Rabu | Hal.12 | Hal. 8.9.10.11 |
|
|
Sumber:
1. Dr. Yahya al-Ghautsani: Agar anak anda hafal al-Qur’an.
2. Yahya Abdul Fatah Az-Zawawi: Revolusi menghafal al-Qur’an.
Diposting oleh
pencinta ilmu
di
06.05
0
komentar
belajar dari perjuangan seorang ibu
Kamis, 20 Mei 2010
Kini anak ke3 dan ke4 juga harus masuk bangku sekolah. Sang ibu banting tulang siang-malam guna mencukupi kebutuhan gizi dan perlengkapan sekolah keempat anaknya. Ia tak kenal lelah dan putus asa. Ia hanya berdoa supaya kelak kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik dan lebih beruntung ketimbang dirinya.
Rutinitas sang ibu
Pukul dua pagi sang ibu mulai bangun dari tidurnya. Dalam keheningan ia bersujud memohon pada Sang Pencipta "kesolehan dan kesuksesan bagi keempat anaknya". Setelah selesai, ia mencuci semua pakaian keluarganya, tidak di rumahnya tidak pula menggunakan mesin cuci otomatis seperti banyak dimiliki para ibu saat ini, melainkan ia harus pergi melewati jalan sepi, kelam, dan jauh hingga sampai di sebuah mata air jernih di ujung kampung-maklum ia tidak memiliki sumur. Tak jarang ia dihantui rasa takut oleh sepi dan kelamnya pagi buta yang saat itu belum banyak penerangan jalan. Namun, mengingat harapan besar ia tautkan pada anak-anaknya, semua rasa takut dan lelah tidak ia hiraukan.
Suara adzan subuh terdengar dari kampung sebelah yang dibatasi oleh sungai besar di samping tempat ia mencuci. Ia bergegas kembali kerumah. Seusai sholat subuh, ia tidak lantas duduk-duduk beristirahat. Namun ia menyiapkan makanan dan lainnya, karena ia tidak ingin keempat anaknya menuntut ilmu dalam kondisi perut yang kosong. Menurut fikiran sederhana dalam dirinya, kalau perut lapar maka anak tidak akan mampu menyerap pelajaran di sekolahnya. Padahal ia menginginkan prestasi bagi anak-anaknya yang kelak dapat mengubah nasibnya.
Setelah semua pekerjaan rumah sekaligus membantu mertua selesai, ia berangkat ke pasar dengan ditemani sepeda onta kesayangannya. Pelan tapi pasti...ia mengayuh menuju keramaian pasar. Setelah keranjang yang menggantung di sisi kanan kiri sepeda terisi penuh, ia menuju rumah dan menjajakan dagangan yang baru saja ia beli. Betapa letihnya ia.....namun lagi-lagi ia tak mengeluh...
Siang hari setelah anak-anaknya pulang sekolah, iapun tidak memaksa mereka untuk membantu. Ia hanya mengingatkan mereka untuk sholat, makan serta belajar, lalu mengizinkan mereka bermain setelahnya.
Berbeda dengan siang hari, ketika malam tiba ia selalu bersikap lebih tegas untuk tidak mengizinkan anak-anaknya menonton televisi sebelum pukul 21.00 wib-padahal jam segitu acara televisi yang ada hanyalah dunia dalam berita pada masa itu. Selepas maghrib, semua harus tadarus/mengaji. boleh di masjid, musholla ataupun dirumah. Selesai isya' semua anaknya harus belajar. Walaupun ia tak pernah mampu menemani anak-anaknya belajar karena kesibukan di warung, keempat anaknya tidak pernah menuntut. Hanya saja, peraturan di malam hari tersebut tidak jarang membuat jengkel ke4 anaknya pada masa itu. Betapa tidak, anak-anak pada umumnya selepas isya' bebas menonton acara televisi yang ia sukai.
Pukul 22.00 atau 23.00 sang ibu mulai merebahkan badannya. capek ditubuhnya setelah beraktivitas seharian hanya bisa ia adukan pada sang khaliq.
Begitu setiap harinya rutinitas sang ibu dijalankan. betapa letihnya ia.....
Ia hanya berharap, semoga keringat dan rasa lelah yang ia rasakan setiap hari akan dibalas oleh-Nya dengan balasan terbaik...
bersambung....
Diposting oleh
pencinta ilmu
di
03.17
0
komentar
Belajar dari perjuangan seorang ibu
Selasa, 18 Mei 2010
Aku yakin, ia tidak pernah menyangka kalau perjalanan hidupnya bakal seberat itu. Mulai dari cobaan ekonomi yang bisa dikatakan sangat pas-pasan-tapi menurutku sangatlah kekurangan- karena hanya untuk membeli sekaleng susu untuk anak keduanya saja tidak bisa. Jangankan membeli susu, membeli bubur saja kesulitan sehingga tak jarang mengutang pada penjualnya.
Tidak hanya itu ujian yang ia terima dari Sang Pencipta. Qadarullah, anaknya yang ke2 dan ke4 sakit-sakitan ketika usianya +-2tahun. Mulai dari muntaber-penyakit yang pada saat itu sangat mengerikan bagi orang yang tidak berpunya-, flek, sampai pilek yang terus menerus tak kenal waktu, juga kudis yang penuh dengan nanah.
Diperparah lagi dengan mertua yang tidak bersahabat. Bukannya membantu tetapi lebih sering menuntut ini itu dan selalu menyakitinya dengan sikap dan kata-kata. Lengkap sudah ujian yang ia terima. (tak bisa kubayangkan bagaimana pedih hatinya dan berapa banyak air mata yang telah ia teteskan dalam sujud dan ruku'nya kala itu).
Pendidikan formal bagi anak-anaknya
Setelah kurang lebih 7 tahun dari pernikahannya, tiba waktunya sang ibu untuk menunaikan kewajiban memberikan pendidikan formal bagi anak pertamanya. Mulai saat itu pula sang ibu harus memutar otak bagaimana cara memenuhi kebutuhan sekolah anak pertamanya itu. Ia terus berfikir dan berfikir, sampai akhirnya ia mendapat masukan dari suaminya supaya ia berjualan kelontong dirumahnya (yang sebenarnya masih menumpang mertua) guna memenuhi kebutuhan sekolah sekaligus menopang ekonomi keluarga.
Mulailah ia berjualan dengan arahan dan bantuan suaminya-maklum, suaminya adalah lulusan sarjana muda akademi perdagangan yang bisa dikatakan pandai dan cerdas. Namun karena masalah ekonomi ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah beberapa lamanya warung kelontong dijalankan, bukannya keuntungan melimpah yang ia dapatkan melainkan pendapatan yang justru minus karena banyak tetangga yang belanja tanpa uang alias ngutang. Namun ia tidak pernah mengeluh atau bahkan mencaci nasibnya. Karena ia selalu ingat bahwa warung yang ia jalankan tidak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anaknya.
Setelah 2 tahun anak pertamanya sekolah, kini disusul anak ke2nya yang harus memasuki bangku SD. Semakin berat beban yang harus ia tanggung, mulai buku-buku, tas, dan perlengkapan sekolah lainnya (maklum anaknya yang kedua ini memang beda dengan kakaknya yang serba menerima kondisi keluarganya). Anak yang ke2 ini agak "manja" semua yang ia inginkan harus dituruti karena jika tidak, ia akan ngambek dan akhirnya jatuh sakit. Tidak ada pilihan lain bagi sang ibu kecuali harus menuruti keinginan anaknya daripada jatuh sakit yang justru akan lebih merepotkan.
Dalam setiap tahajudnya, sang ibu selalu memohon kesuksesan bagi anak-anaknya walau dengan segala keterbatasan ekonomi.
bersambung.....
Diposting oleh
pencinta ilmu
di
04.14
0
komentar
